Search

Maria-Syamsi

From My Heart

Category

Poetic eh?

One Day

InsyaaAllah.

Kirimkanlah Aku

“Tuhan, kirimkanlah aku..”



Bulan mengambang

Sedang menyinar di awal pagi

Waktu tahajjud 

Manusia kesunyian, keseorangan

Masih bersujud, kesyukuran

Meminta pada Tuhannya

“…kekasih yang baik hati…”




Bintang-bintang berkerlipan

Bertebaran di angkasa

Dia masih memohon

Kepada Tuhan yang punya segala kuasa

Memutarkan bulan

Menggerakkan awan

Menumbuhkan pohon

Di atas tanah gersang 

“…yang mencintai aku…”



Karena

Dia masih terkenang

Seorang insan lain

Yang juga terbaring

Merenung bintang di langit 

Seperti dia juga

Seorang insan lain

Yang nyaman dikeliling alam

Walau bersendirian

“…apa adanya…”




Benar

Tanaman bisa tumbuh

Di tanah yang gersang

Cuma perlu disiram

Titik-titik hujan

Benar

Malam tidak bisa

Mendahului siang

Dan siang tidak bisa

Memberi lalu kepada malam

Karena besarnya ketetapan Tuhan

Maka itu dia memohon lagi

Terangkanlah

Siramkanlah

Suburkanlah

Tetapkanlah

Biar sampai ke jannah

Menggoncang Dua Dunia

Dingin malam itu

Hujan baru reda

Angin masih menggerakkan

Dahan-dahan basah

Daun-daun menitiskan

Titik-titik air

Dia mengangkat bahu

Tangan diseluk ke saku

Mata merenung tajam

Daun pintu yang baru tertutup

Tidak berkelip matanya

Hati bermonolog

Apakah ini cinta?

Tibanya tidak dijangka

Baginya bukan saatnya

Karena kaki harus melangkah pergi

Tidak lama lagi

Jauh dari kota tua ini

Apakah ini cinta?

Jika bener, mengapa bibir tidak bisa mngukir

Senyuman tiap kali kau hadir

Mungkin karena

Saat pisah itu hampir

Air mata pasti mengalir

Wanita itu

Mengikat kerudungnya

Berbisik kepada Tuhan

Tolonglah berikan jawaban

Suatu doa yang pasti

Mengubah dua hati

Menggoncang dua dunia

Tiada siapa yang sangka

Sedang mobilnya menyusur dalam hujan

Berbisik dia lagi kepada Tuhan

Berikanku kekuatan

Dalam penantian

Sedang dia pasti

Saat yang tepat hanya Dia yang tahu

Lantaran itu

Beban di bahu digalas dulu

Sampai suatu waktu

Dikongsi, dibahagi

Dengan yang dicintai

Biarlah sedikit lambat

Janji akhirnya

Sampai jua ke syurga

Dakapan Itu

Mungkin dia sudah lupa erti rindu

Yang sudah ditepiskan bertahun-tahun dulu
Tangisan yang tidak tersambut

Panggilan tidak tersahut

Dingin tak terselimut

Hanya malam kelam

Hidup mandiri

Belajar sendiri

Berjalan sendiri

Bermain sendiri

Berkelana juga sendiri

“Saya sudah tidak punya ibu.”

Suara dalam anak muda

Sudah lama putus asa

Mengharap ibunya kembali

Namun Sukma memanggil

Merayu

“Tapi dia tetap ibu kamu.”

Hati anak muda

Yang awalnya putus asa

Tergerak jua

Sambil mencari kembali

Cinta

Merenung, memikir

Dalam keliru mundar mandir

Cuba mentafsir

Apa ertinya semua ini

Lalu akhirnya

Dengan debar di dadanya

Gelisah di fikirannya

Pintu diketuk

Sukma menyambut

Senyuman manis di wajahnya

Wanita tua itu dipimpin keluar

Dengan wajah tidak pasti

Mereka saling mendekati

Dakapan wanita tua itu

Dibalasnya kembali

Dua puluh lima tahun menanti

Saat ini

Nafas ditarik 

Mengambil setiap detik

Pertemuan

Rasa yang tersemat di raga

Tidak terungkap dengan kata-kata

Maka mengalirlah air mata

Dua insan

Anak dan ibunya

Melepas kerinduan

Yang menusuk segenap jiwa

Maafkanlah

Bersatulah

Ibu itu tetap ibu

From Mecca to Jakarta (With Sweet Dreams and Poetry In Between)

“Dicari karya Chairil Anwar tapi gak ada. Langsung dibaca perjalanan hidupnya dulu.”

Since I had two cups of coffee today (and the latest was at 8pm 😰), I gave myself the rights to ramble. Hahah.

(1) One of my few resolutions for the year is to finish four books per month, and one journal/guideline per week. I am trying hard and rather pressured to fulfill this, just because I really really wanted to. I have been too slow in the books division and there are so many things I need to learn, to expose myself to. For January, I need to finish these books:

– Adik Datang by A Samad Said

– The World Atlas of Coffee by James Hoffmann

– The Muse by Jessie Burton

– The House of Wisdom by Jonathan Lyons

Four very different genres; two of them are fictions. The cheating part is I have started reading the non fictions about weeks to months ago. Yet I’m struggling to finish it.

Not forgetting the ESC ACS guidelines that I started reading last Wednesday.

(2) I have not gone out since coming back from Umrah. What with my cough and multiple oncall days and weekend rounds, I have not even gone to the gym. So today I managed to get some exercise, went for dinner in Kinokuniya, and browsed its shelves after that. So I got myself these books. Yes, despite not reaching my January goals yet.

(3) The place I’ve been, the place I will be. From Maqam Ibrahim to Jakarta. In between there are sweet dreams and poetry. And hope. A lot of hope.

(4) Browsing the net for information about a city is probably much cheaper than buying a book, and as far as I know, information in travel books might be as (in)accurate as travellers’ blogs. But with my job and all the reading I need to do, I don’t think I will have time to do a proper research for my short trip there. So I decided to grab a book about Jakarta (it is not cheap 😰). I hope it will be useful.

(5) I am not happy with the quality of Malay books these days. Many books in the market are basically compilations of tweets, Facebook statuses and blogs. However, the language is often too rough, even when they are written by young ustazs. Apparently these kinds of books sell better. “As long as the message gets across.” But I don’t believe in compromising language for marketing/popularity purposes. We need to be more responsible. 

Using simple language is alright, but using rough slangs and inappropriate, incorrect words are just unacceptable.
Therefore I get back to classics. 😊

(6) The movie Ada Apa Dengan Cinta managed to re-ignite my love towards Malay poetry. I recognised the book “Aku” from afar, and excitedly, I grabbed a copy. It is not written by Chairil Anwar but it is based on his life and his works. I do wish to get a copy of his works one day. Maybe in Jakarta.
So good night. I hope I will be able to sleep well despite the coffee. 😴😴

Memanggilmu

Ingatkan Aku

Setiap Helai Daun

Doa dan Jawaban-Nya

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑